0

Komunitas; Pemberdayaan dan Disorientasi

November 24, 2011 Acara

(Kasus dalam komunitas komik)

Jika anda adalah penggemar komik, anda tinggal menyebut saja judul-judul atau karakter-karakter utama dari komik yang anda gemari, maka sudah dipastikan ada komunitasnya. Group-group di mailing list, facebook hingga kelompok dengan pertemuan offline berderet dalam senarai google. Dari komunitas Komik lama (jadoel) hingga komik terbitan terbaru dalam dan luar negeri. Tidaklah aneh bagi kita bahwa kegemaran terhadap komik dapat menyatukan sekian banyak perbedaan primer seperti ras suku dan agama menjadi kelompok yang bersatu dan berdaya, namun itulah yang terjadi dalam sistem kekerabatan masyarakat urban. Masyarakat yang rata-rata tumbuh jauh dari lingkungan tradisinya yakni keluarga dan tetangga (kampung) kini dengan mudah membentuk lingungan baru berdasarkan kesamaan barang konsumsi tau hobby yang bagi sebagian orang dianggap remeh temeh.

Secara pribadi saya adalah partisipan beberapa komunitas, termasuk komunitas kepemilikan benda, namun yang benar-benar bermanfaat hingga kini adalah komunitas yang berkaitan dengan profesi, yaitu komik. Saya patut berterimakasih pada komunitas-komunitas komik yang bermunculan di paruh akhir tahun 90-an yang terus berkembang dan menyokong penerbitan komik hingga kini, merekalah yang terus menghidupkan gairah dunia komik saat industri berpihak pada komik-komik asing terjemahan, dari komunitas penggemar komik dengan berbagai macam genre dan era, hingga komunitas pembuat komik.

Kurang lebih pada tahun 2004-an, saya pernah mengikuti sebuah mailing list yang pada saat itu agak janggal, yakni klubkomikus_indonesia, group ini sudah lama saya tinggalkan karena selain moderasinya tidak jelas juga setelah saya agak terganggu dengan sebutan ”komikus Indonesia”, yang tadinya saya berharap group ini berorientasi memberdayakan para profesional, namun nyatanya hanya sekedar kumpulan netter penggemar komik. Klaim yang dengan mudahnya dicetuskan semudah membuat group online. Belakangan ini yang kembali ganjil bagi saya dan cermin disorientasi adalah munculnya Komunitas Penerbit Komik Indonesia (kpki.org), pertanyaan mendasarnya adalah sama dengan group yang saya tinggalkan diatas yakni mengenai klaim dan orientasi, sebelum membahas lebih jauh barangkali perlu didefinisikan dahulu apa maksud dari sebutan Penerbit Komik itu, setahu saya di Indonesia ini hanya beberapa penerbit saja yang betul-betul mandiri sebagai penerbit komik itupun kecil, biasanya komik hanyalah salah satu produk dari penerbitan buku lainnya.

Bagi saya, komunitas adalah sekumpulan individu, bukan lembaga seperti penerbitan, jika penerbit berkumpul sebaiknya membentuk asosiasi atau ikatan yang resmi, karena dasar pembentukannya jelas sebagai kumpulan lembaga berorientasi bisnis, bukan komunitas yang demikian cair. Saya tidak menafikan apa yang sudah dikerjakan KPKI ini dengan kegiatan apresiasi kreatifnya seperti festival yang baru-baru ini dilakukan, namun saya kira kegiatan apresiasi yang sama seperti festival telah kerap dilakukan oleh komunitas lain, sehingga menimbulkan kondisi paritas yang menjenuhkan, karena setiap komunitas rasanya melakukan hal yang serupa setiap tahunnya, rasanya komunitas-komunitas ini tidak berbagi porsi, sehingga tidak terjalin sinergi dalam jaringan kerja membangun industri komik Indonesia.

Asosiasi penerbit ini dalam pandangan saya, seharusnya tidak latah dan sebaiknya bertindak lebih jauh ke depan yakni pada porsi yang tidak tersentuh oleh komunitas/ lembaga lain yang lebih sesuai visi anggotanya, seperti misalnya saat kasus ketidak jelasan pelarangan komik opini ”Hidup Itu Indah” (Aji Prasetyo, Cendana Art Media) di salah satu toko buku terbesar, asosiasi inilah yang berfungsi menjadi penengah (mediator) yang memberikan edukasi terhadap semua elemen yang terkait. Lebih jauh lagi, asosiasi ini akan bertindak sebagai perantara dengan pemerintah saat industri kreatif (termasuk penerbitan) sedang didorong maju, saya kira inilah fungsi sesungguhnya asosiasi ini sebagi jalan pengembangan usaha. Jika hal ini terjadi betul, maka saya dapat berharap banyak industri komik di Indonesia akan bergerak maju lebih cepat karena semua infrastrukturnya dari mulai pendidikan, penerbitan, distribusi terjaring dengan baik. Jika asosiasi ini legalitas dan keanggotannya kuat (tidak cair) maka kredibilitasnya akan menjamin kinerja asosiasi ini, termasuk jika tetap bersikeras membuat kegiatan festival atau anugerah.

Penerbitan komik kini sedang mengalami kegairahan baru, bukan hanya pada industri buku konvensional (print ), namun juga telah merambah pada penerbitan melalui media baru dan distribusi berbasis online yang akselerasi perubahannya sangat cepat. Kita membutuhkan sumber yang bisa dijadikan rujukan informasi untuk semua perkembangan ini. Menjadi bagian dari komunitas bagi saya, adalah wujud interaksi sosial yang telah lama hidup di lingkungan saya sehari-hari, persoalannya adalah kita kerap mengabaikan peran nyata komunitas dalam masyarakat (sebagai komunitas terbesar), Padahal pada era saat ini, komunitas adalah bentuk kegiatan pemberdayaan yang nyata dan mampu berbuat selain dari berkumpul semata. Selamat berpartisipasi.

Beng Rahadian

———————-

Tulisan ini telah dimuat pada comicalmagz edisi #009 (September 2011) dan ditanggapi secara subyektif oleh akun: Novan Donovan yang dikirimkan ke beberapa milis komik di yahoogroups: mki@yahoogroups.com, komik-indonesia@yahoogroups.com, pengajian_komik_dkv@yahoogroups.com, komik_alternatif@yahoogroups.com, pasarbuku@yahoogroups.com, klubkomikusindonesia@yahoogroups.com, pasarkomik@egroups.com, komikwayang@yahoogroups.com, komikaze99@yahoogroups.com, pada Senin, 14 November 2011 15:25 dengan judul: “pak moderator mau menyampaikan sedikit uneg-uneg nih …..”

Isi tanggpan tersebut sengaja tidak saya tampilkan di sini, namun akan saya bahas pada artikel khusus, sementara saya masih mengumpulkan hasil investigasi.

Leave a Reply