Catatan Perjalanan
Catatan dari Festival Komik Angoulème-39, Perancis
Setelah berkali-kali menemani komikus Perancis workshop di Jakarta yang kerap menceritakan kebesaran Festival komik di Angoulème, akhirnya pada festival yang ke 39 di penghujung Januari 2012 ini, saya berkat dukungan penuh dari Institut Francais Indonesia (IFI) Jakarta berkesempatan mengunjungi festival yang memang terbukti kebesarannya ini.
Angoulème dapat ditempuh dalam waktu 3 jam menggunakan kereta cepat dari stasiun di kompleks Bandara Paris De Gaulle dengan ongkos 63€. Angoulème adalah kota kecil di barat daya Perancis dengan tekstur tanah berbukit, area festival terdapat di dataran atas yang masih berdiri rapat bangunan-bangunan mediteranian dan menjadi pusat kota Angoulème. Sejak turun dari kereta, suasana stasiun sudah menggambarkan festival ini, para LO berjejer membawa papan nama tamu-tamu yang hendak dijemput beberapa bahkan membagikan cake, di sudut stasiun ada booth yang selain menjual komik juga membagi-bagikan katalog dan informasi-informasi penting mengenai Festival. Dari stasiun kereta telah tersedia bis gratis bergambar dengan tempelan sticker informasi yang melewati bangunan kota dimana kita akan menemukan beberapa mural komik seperti Lucky Luke, Gaston dll, hampir seluruh etalase toko (apapun) ditempeli poster, memajang komik dan figuran koleksi bahkan beberapa ada yang memang dijual. Festival ini menjadi perayaan warga kota.
Dalam perjalanan ini saya ditemani Puput, seorang kawan alumni IKJ yang sedang melanjutkan Master Kajian Sinematografi di Paris, dengan bahasa Perancis-nya yang cukup lancar sangat membantu saya dalam membaca peta dan berkomunikasi. Lokasi pertama yang dituju adalah Sekretariat panitia di I’Hòtel De Ville untuk menukarkan badge tanda akreditasi sebagai Auteur (kategori: Drawer) yang sudah saya dapatkan melalui registrasi online seminggu sebelumnya. Dengan badge ini saya dapat memasuki seluruh venue festival dengan gratis. Setelah mendapat badge ini saya segera mencari lokasi homestay yang sudah dipesan sebelumnya oleh IFI, agar saya tidak mondar-mandir sambil menyeret koper. Di Homestay itu, telah tiba lebih dulu Timothy R Lehmann (Tim) Penulis buku “Manga: Master Of The Arts” dari Milwaukee USA, kemudian tiga orang dari perpustakaan komik Bibliothè Care Spècialisè BD Belgia.
Hari pertama sudah kemalaman bagi saya untuk berkeliling di Festival karena sepertiga hari habis di perjalanan dan mengurus akreditasi serta mencari lokasi homestay, hingga saya hanya berhasil mengejar acara diskusi bersama Joe Sacco tentang bukunya “Reportages Gaza 1956” edisi bahasa Perancis, agak mengherankan juga karena audiens bisa dibilang tidak banyak, namun diskusinya cukup menarik, diantaranya jawaban Joe Sacco saat menjawab pertanyaan mengenai seputar profesinya, bahwa dia lebih suka mengaku dirinya sebagai kartunis. Joe Sacco pun mengakui bahwa setiap medium memiliki kekuatanya masing-masing saat pertanyaan audiens menyinggung mengapa Joe Sacco lebih memilih komik ketimbang teks. Joe Sacco menanggapi bahwa gambar yang dia buat bisa secara detail menggambarkan apa yang dia tangkap.
Hari-hari berikutnya saya sudah siap di area festival sejak pagi hari, yakni pukul 10. Kondisi musim dingin membuat saya mengalami disorientasi waktu, biasa mengalami jika jam 10 itu sudah siang, di Angoulème justru masih pagi sekali. Hari kedua, saya sudah tertolak saat ikut mengantri sesi dedicate (booksigning) bersama Craig Thompson untuk peluncuran buku Habibi, salah seorang pengantri mengatakan jika orang-orang sudah berkumpul di sini 4 jam sebelumnya, sementara Craig Thompson hanya melayani 30 orang saja. “It’s Angoulème!” katanya. Ini akan kita ketahui belakangan mengenai pembatasan jumlah pengantri adalah: karena bahwa komikus-komikus ini bukan hanya membubuhkan tanda tangan namun juga menggambar sesuatu bahkan mewarnainya secara manual. Begitupun dengan antrean sesi dedicate berikutnya saya tetap gagal. Usaha saya berhasil justru bukan pada saat sesi dedicate, namun nekad nyelonong saat setelah bubaran diskusi mengenai buku Habibi dan Zahra’s Paradise karya Amir Khalil di lokasi yang berbeda, ini beresiko akan ditolak, karena dianggap tidak sopan dan bukan pada sesinya, namun beruntung justru Craig Thompson memperlihatkan antusias dan keramahan pada saya dan beberapa orang yang turut mengantri juga, terlebih mengetahui bahwa saya datang dari Indonesia. Lega sekali rasanya, malam itu saya tidak beranjak kemana-mana karena kebetulan di lokasi yang sama diputar film dokumenter mengenai “Sex In The Comics” karya Joelle Oosterlinck yang diantaranya mewawancarai Robert Crumb, Milo Manara, Sebastian Vives dll.
Festival yang melibatkan warga satu kota ini memang menjanjikan banyak hal, kita bukan hanya “tenggelam” dalam tumpukan komik-komik, belajar kesenian, berkumpul dengan warga Perancis yang berdatangan dari luar kota Angoulème baik tua maupun muda, namun juga saya sebagai pendatang dapat merasakan sensasi berada diantara bangunan-bangunan indah dan bersejarah, tenda-tenda khusus dibangun dan tersebar di beberapa venue seperti lokasi Mangesia (Taiwan), Marvel, Theatre untuk pemutaran animasi dan performance, Pameran 50 Komikus Eropa, Para BD (Penerbit kecil, studio, dan toko yang menjual merchandise) serta tenda utama yang berisi penerbit-penerbit besar seperti Casterman, Le Lombard, Dargaud dll, di tenda utama inilah penerbit-penerbit menyelenggarakan sesi dedicates dan sesi konferensi. Di lokasi inilah presentasi singkat (tanya jawab dengan penerjemah bhs Inggris) yang selian menampilkan Joe Sacco juga Eddie Campbell yang menerbitkan Alec. Pada karya ini Eddie yang merasa jenuh dengan cerita superhero, mengaku kini melakukan small publishing dengan karya yang menurutnya lebih jujur. Pameran komik pun disebar di beberapa lokasi seperti pusat perbelanjaan dan gereja.
Berada di Angouleme adalah “tak berarti” jika tidak mengunjungi museum komiknya. Museum ini intinya sederhana, memamerkan karya komikus-komikus yang berpengaruh di Perancis, berupa 2 lembar halaman komik orisinal masing-masing sket pensil dan tintanya, kemudian lukisan komikus tersebut yang tidak terkait dengan komiknya. Salah satunya adalah lukisan karya Herge yang dipajang adalah bagian halaman Tintin di Tibet dan lukisan kanvas yang bercorak kubistik. Sayang di dalam museum ini pengunjung tidak boleh memotret. Namun, apa yang saya dapati ini menyadarkan saya bahwa pengalaman artistik komikus itu bukan saja hanya (harus pandai) menggambar anatomi semata, namun dalam bentuk ekspresi yang lain, tradisi seni rupa dan sastra yang kuat turut membentuk komik-komik berkualitas dari Eropa. Pada gedung yang sama, dipamerkan juga sejarah komik dunia, karya-karya asli dari kartun Wilhelm Busch, Richard F Outcalt (The Yellow Kids, yang ditengarai menandai kelahiran komikstrip di dunia) dipamerkan dalam meja kaca. Pameran ini terbagi menjadi 3 section, yakni komik penerbitan (koran), komik buku (termasuk majalah komik) dan komik underground. Semua ditampilkan dalam bentuk aslinya. Salah satu ruangan memamerkan karya-karya komik yang eksploratif seperti karya Chris Ware.
Di seberang museum, diselenggarakan pameran retrospeksi Comix Art Spiegelman, dalam festival kali ini Spiegelman menjadi Juri kehormatan, di area ini semua arsip dan artwork dan perjalanan karir Art Spiegelman ditampilkan secara utuh. Komik Maus pun diluncurkan dalam bahasa Perancis.
Melewati tengah hari, saya menuju ruang konferensi yang akan mendiskusikan “The Making of 1001 Comics You Must Read Before You Die” bersama pengarangnya Paul Gravett. Acara ini sangat penting bagi saya dan mungkin bagi dunia komik Indonesia karena salah satu komik karya Ardisoma (Alm) “Wayang Purwa” masuk dalam list tersebut, komik Wayang Purwa ini bisa masuk atas inisiatif dari Hikmat Darmawan, seorang pengamat komik Indonesia. Acara ini menjelaskan bagaimana perubahan-perubahan yang terjadi saat pemilihan komik yang patut masuk ke dalam list. Paul Gravett yang berasal dari Inggris, mempresentasikannya dengan Bahasa Perancis yang sangat fasih.
Di hari terakhir, menjelang siang saya harus segera kembali ke Paris, untuk menyesuaikan jadwal kepulangan ke Jakarta. Saya ingin meberi catatan khusus bahwa festival ini tidak terlaksana seketika saja, namun memiliki sejarah yang panjang, di samping itu juga habbit dari masyarakat Perancis dan Eropa pada umumnya, yang sangat apresiatif terhadap komik. Sehingga bukan hanya industri yang kuat namun juga menumbuhkan terus menerus karya-karya yang berkualitas dan kukuh. Ini pelajaran penting bagi saya yang rasanya baru saja “melek” pada sebuah perayaan komik.
Beng Rahadian
Comments (16)















Asyiiik… Suatu hari nanti saya ingin mengunjungi pameran ini. Insya Allah, kalau ada umur dan rezeki tentunya.
amin, semoga ya pak…
Mudah2an Indonesia bisa bikin acara seperti ini…
lebih banyak yang terlibat dan komik lokal jadi lebih banyak
dan merajai di negerinya sendiri amiiinn…..
Itu juga cita-cita dan harapan kita bersama ya Bah, meskipun sangat terbuka komik2 terjemahan itu juga komikus aslinya didatangkan sama penerbit, bisa sharing menegnai proses berkarya dan cara pandang masing2 budaya, jadi selain komik kita berkembang juga kita punya pergaulan internasional, syukur2 komik karya anak bangsa Indonesia pada diterjemahin di negeri orang juga…, mimpi Bah..
Nungguin KONDE masih 5 tahun lagi nih mas Beng
Harusnya 2016 ya.. hehehe, kita akan buat di September ini kan sama Goethe, abnggap aja menuju Konde
Beng,
. I hope you had good time there.
Kamu ke Angoulême? Dekat sekali dari rumah orant tuah saya dong
Sampai jumpa ya
Elise
Elise, apa kabar?
Kalau tahu dari awal mungkin aku akan mampir, hehehe…
Sangat terasa bahwa in between each paragraphs, Beng bisa bercerita lebih banyak lagi =). Kelak giliran gue untuk berbagi cerita ttg festival komik lainnya
Ditunggu kabar dari Erlangen dan Museum Herge nya Juni nanti
Waaaa………….
Ada Tintin-nya…. Jadi pengen…… Kapan ya????? Bisa sekalian tur ke Belgia nie…..
Salam,
M. Misdianto
Salam pak Misdianto,
Kalau mau ikut mas Surjorimba saja, beliau Juni nanti berencana mengunjungi museum Herge, bapaknya Tintin
aduh maaas ,padahal saya tinggal dekat banget dg stasiun kereta angouleme (juga ndak jauh dari tempat festival). sayang banget ya, kl ndak bisa saya bantuin ngapa ngapain disini. waaaaaa ternyata beneran ada penulisnya “habibi”. aku bukan pembaca komik sih, makanya ndak begitu antusias, hanya big fans nya habibi. males pergi karna sendirian, dan susah nyari parkiran…
Waah Mbak Eva, kalau tahu sampeyan di sana, saya pasti banyak minta tolong dan ngerepotin deh hehehe… Asyik banget lho Mbak, beruntung bisa tinggal di sana, cuma saya ndak kuat dinginnya aja, sama cari makanan yg cocok, hehehe…
sayang banget ndak jodoh ya, seharusnya nemu resto padang di rumahku ha ha
[...] figuran koleksi bahkan beberapa ada yang memang dijual. Festival ini menjadi perayaan warga kota. Lihat berita lengkapnya. Nirmana Award via nirmanaaward.com © [...]